Load more

SUMBER DAYA MANUSIA DAN MANAJEMEN PENGEMBANGAN DAKWAH

Sumber Daya Pelaksana Dakwah
Sumber daya manusia merupakan aset organisasi yang sangat vital karena itu keberadaannya dalam organisasi tidak bisa digantikan oleh sumber daya lainnya. Betapapun modern teknologi yang digunakan atau seberapa banyak dana yang disiapkan, namun tanpa dukungan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan profesional, semuanya menjadi tidak bermakna.[1]

Tidak dapat disangkal bahwa tenaga manusia atau sumber daya insani merupakan sumber terpenting yang dimiliki oleh suatu organisasi. Karena sifatnya sebagai sumber yang terpenting, logis apabila dalam rangka peningkatan efesiensi kerja, perhatian utama ditujukan pula kepada sumber ini, sorotan perhatian tidak boleh hanya ditujukan kepada pemanafaatannya secara maksimal, akan tetapi juga pengembangannya, perlakuannya dan estafet penggantiannya.[2]

Sumber daya manusia merupakan aset organisasi yang sangat vital karena itu keberadaannya dalam organisasi tidak bisa digantikan oleh sumber daya lainnya. Betapapun modern teknologi yang digunakan atau seberapa banyak dana yang disiapkan, namun tanpa dukungan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan profesional, semuanya menjadi tidak bermakna.[1]

Tidak dapat disangkal bahwa tenaga manusia atau sumber daya insani merupakan sumber terpenting yang dimiliki oleh suatu organisasi. Karena sifatnya sebagai sumber yang terpenting, logis apabila dalam rangka peningkatan efesiensi kerja, perhatian utama ditujukan pula kepada sumber ini, sorotan perhatian tidak boleh hanya ditujukan kepada pemanafaatannya secara maksimal, akan tetapi juga pengembangannya, perlakuannya dan estafet penggantiannya.[2]

Modal yang dimiliki oleh organisasi, hanya akan semakin besar dan berkembanag apabila dikelola secara tepat. Pengolaan yang tepat hanya mungkin dilakukan oleh manusia yang tidak saja ahli dan trampil pada bidangnya masing-masing, akan tetapi juga memenuhi berbagai persyaratan non teknikal lainnya seperti loyalitas, disiplin dan organisasional, dedikasi, kesediaan membawakan kepentingan peribadi kepada kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingn bersama antara lain tercermin dalam kepentingan kelompok dan kepentingan organisasai. Mesin yang paling canggih sekalipun hanya merupakan tumpukan benda mati apabila tidak dipergunakan atau dijalankan oleh manusia, suatu mesin yang otomatik hanya berfungsi setelah pada mulanya dihidupkan oleh manusia dan hanya bekerja berdasarkan intruksi yang diberikan oleh manusia.[3]

Walaupun demikian, sumber daya manusia tidak akan menjadi lebih unggul atau aset yang menjadi faktor penentu keberhasilan organisasi tampa digerakkan agar lebih berdaya guna.

Menurut Sondang P. Siagian, bahwa menggerakan sumber daya manusia salah satu hal yang sulit untuk dilaksanakan, kesulitan tersebut disebabkan oleh lima faktor yaitu:

1. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia seperti sejarah, ilmu politik. Ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, antropologi dan psikologi dalam usaha akumulasi teori tentang seluk beluk manusia, ia tetap merupakan makhluk yang masih penuh dengan misteri sehingga dapat dikatakan bahawa lebih banyak yang belum diketahui ketimbang yang sudah terungkap tentang manusia.

2. Dari semua sumber yang dimiliki oleh suatu organisasi hanya man usialah yang mempunyai harkat dan martabat yang tidak hanya perlu diakui, akan tetapi juga dihargai dan bahkan harus dijunjung tinggi. Penghargaan dan pengakuan akan harkat dan martabat tersebut memang harus dubarengi oleh penunaian kewajiban olehh para anggota organisasi yang bersangkutan.

3. Semua sumber daya dan dana yang terdapat dalam organisasi pada dirinya hanya merupakan benda mati yang secara interinsik tidak mempunyai nilai apa-apa. Berbagai sumber tersebut hanya mempunyai arti dalam usaha pencapaian tujuan apabila dimobilisasikan dan dimanfaatkan oleh manusia secara tepat .

4. Sumber daya manusia merupakan modal terpenting yang mungkin dimiliki oleh organisasi dan merupakan unsur pembangunan organisasi yang sangat tangguh apabila digerakkan secara tepat.

5. Sebaliknya sumber daya manusia pulalah yang mungkin menjadi perusak dalam organisasi apabila tidak diperlakukan sebagai insan dengan harga diri yang tinggi. [4]

Menurut Soekidjo Notoadmodjo bahwa tujuan dari manajemen suber daya manusia secara operasional adalah:

1. Tujuan masyarakat (society objective)

Diorientasikan untuk bertanggung jawab secara social, dalam hal ini pemenuhan kebutuhan serta tantangan yang timbul di masyarakat. Suatu orientasi yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat, diharapkan membawa manfaat bagi masyarakat. Oleh karena, suatu organisasi memiliki tnggung jawab dalam mengelola sumber daya manusia agar tidak memiliki dampak negative di masyarakat.

2. Tujuan organisasi (organization objective)

Diorientadsikan untuk mengenal bahwa sumber daya manusia itu ada (exsist), maka perlu memberikan kontribusi terhadap pendaya gunaan organisasi secara keseluruhan. Karena manajemen sumber daya manusia suatu tujuan dan akhir suatu proses, melainkan suatu perangkat atau alat untuk membantu tercapainya suatu tujuan organisasi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, unit atau bagian sumber daya manusia disuatu organisasi diadakan untuk melayani bagian-bagian lain oraganisasi tersebut.

3. Tujuan fungsi (functional objective)

Diorientasikan untuk memelihara (maintain) kontribusi unit bagian lain agar sumber daya manusia dalam tiap bagian tersebut, melaksanakan tugasnya secara optimal. Dengan kata lain, bahwa setiap elemen sumber daya manusia dalam oraganisasi tersebut, menjalankan fungsinya dengan baik.

4. Tujuan personel (personnel objective)

Diorientasikan untuk membantu karyawan satu elemen dalam mencapai tujuan oraganisasi. Tujuan pribadi atau personal haruslah terpenuhi. Hal itu sudah merupakan motivasi dan pemeliharaan terhadap karyawan.[5]

Demikian halnya dalam arena dakwah sebagai suatu organisasi atau aktivitas kemanusiaan yang bertujuan untuk merubah sesuatu situasi ke yang lebih baik, dalam rangka kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, maka diperlukan sumber daya manusia yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya sebagai sebuah organisasi.

Menurut Syafaat Habib bahwa Sarana dakwah karenanya harus dilengkapi dengan manusia-manusia yang mampu menangani masalah-masalah sosial, karena arah yang dituju adalah perubahan-perubahan sosial yang lebih baik, mereka seharusnya memiliki siifat-sifat unggul manusia:

1. Sebagai “pemimpin”, mempunyai sifat lebih, ahli dalam bidangnya, bertaqwa , berjiwa patriotis, terlatih dalam masalah-masalah sekuler maupun masalah agama.

2. Sebagai manusia terkemuka yang diperlengkapi dengan baik, baik dalam hal ilmu pengetahuan yang luas, maupun alat-alat dan methode.

3. Sebagai pemuka digaris depan yang berkekuatan dan mampu memberikan energi kepadda sekitarnya, dengan pembangunan moralitas dan nilai-nilai kehidupan manusia lainnya.

4. Sebagai “penuntun” yang mampu meletakkan sesuatu yang “pertama” pada yang “pertama”, menghilangkan keraguan dalam tingkah laku dan sikap pengikutnya dan mampu memberikan bimbingan ketegasan.

5. Sebagai aturan yang selalu menekankan nilai-nilai budi pekerti yangtinggi atau makarimul akhlak.

6. Sebagain sumber yang selalu dapat menyediakan cara terbaik dalam membina kerja-sama antar ummat manusia, dengan kemampuan menunjukkan cara-caranya.

7. Sebagai kompas dan lidstar atau bintang penuntun yang dinamis bagi khalayak umum. Dan lain-lain sifat unggul yang perlu dimiliki seorang manusia, hamba tuhan yang baik.[6]

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Asep.M dan Agus. bahwa usaha pengembangan sumber daya da’i berkaitan dengan upaya pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya da’i yang meliputi pemberdayaan da’i dalam pola pikir, wawasan dan keterampilan sebagai berikut:

Modal yang dimiliki oleh organisasi, hanya akan semakin besar dan berkembanag apabila dikelola secara tepat. Pengolaan yang tepat hanya mungkin dilakukan oleh manusia yang tidak saja ahli dan trampil pada bidangnya masing-masing, akan tetapi juga memenuhi berbagai persyaratan non teknikal lainnya seperti loyalitas, disiplin dan organisasional, dedikasi, kesediaan membawakan kepentingan peribadi kepada kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingn bersama antara lain tercermin dalam kepentingan kelompok dan kepentingan organisasai. Mesin yang paling canggih sekalipun hanya merupakan tumpukan benda mati apabila tidak dipergunakan atau dijalankan oleh manusia, suatu mesin yang otomatik hanya berfungsi setelah pada mulanya dihidupkan oleh manusia dan hanya bekerja berdasarkan intruksi yang diberikan oleh manusia.[3]

Walaupun demikian, sumber daya manusia tidak akan menjadi lebih unggul atau aset yang menjadi faktor penentu keberhasilan organisasi tampa digerakkan agar lebih berdaya guna.

Menurut Sondang P. Siagian, bahwa menggerakan sumber daya manusia salah satu hal yang sulit untuk dilaksanakan, kesulitan tersebut disebabkan oleh lima faktor yaitu:

1. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia seperti sejarah, ilmu politik. Ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, antropologi dan psikologi dalam usaha akumulasi teori tentang seluk beluk manusia, ia tetap merupakan makhluk yang masih penuh dengan misteri sehingga dapat dikatakan bahawa lebih banyak yang belum diketahui ketimbang yang sudah terungkap tentang manusia.

2. Dari semua sumber yang dimiliki oleh suatu organisasi hanya man usialah yang mempunyai harkat dan martabat yang tidak hanya perlu diakui, akan tetapi juga dihargai dan bahkan harus dijunjung tinggi. Penghargaan dan pengakuan akan harkat dan martabat tersebut memang harus dubarengi oleh penunaian kewajiban olehh para anggota organisasi yang bersangkutan.

3. Semua sumber daya dan dana yang terdapat dalam organisasi pada dirinya hanya merupakan benda mati yang secara interinsik tidak mempunyai nilai apa-apa. Berbagai sumber tersebut hanya mempunyai arti dalam usaha pencapaian tujuan apabila dimobilisasikan dan dimanfaatkan oleh manusia secara tepat .

4. Sumber daya manusia merupakan modal terpenting yang mungkin dimiliki oleh organisasi dan merupakan unsur pembangunan organisasi yang sangat tangguh apabila digerakkan secara tepat.

5. Sebaliknya sumber daya manusia pulalah yang mungkin menjadi perusak dalam organisasi apabila tidak diperlakukan sebagai insan dengan harga diri yang tinggi. [4]

Menurut Soekidjo Notoadmodjo bahwa tujuan dari manajemen suber daya manusia secara operasional adalah:

1. Tujuan masyarakat (society objective)

Diorientasikan untuk bertanggung jawab secara social, dalam hal ini pemenuhan kebutuhan serta tantangan yang timbul di masyarakat. Suatu orientasi yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat, diharapkan membawa manfaat bagi masyarakat. Oleh karena, suatu organisasi memiliki tnggung jawab dalam mengelola sumber daya manusia agar tidak memiliki dampak negative di masyarakat.

2. Tujuan organisasi (organization objective)

Diorientadsikan untuk mengenal bahwa sumber daya manusia itu ada (exsist), maka perlu memberikan kontribusi terhadap pendaya gunaan organisasi secara keseluruhan. Karena manajemen sumber daya manusia suatu tujuan dan akhir suatu proses, melainkan suatu perangkat atau alat untuk membantu tercapainya suatu tujuan organisasi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, unit atau bagian sumber daya manusia disuatu organisasi diadakan untuk melayani bagian-bagian lain oraganisasi tersebut.

3. Tujuan fungsi (functional objective)

Diorientasikan untuk memelihara (maintain) kontribusi unit bagian lain agar sumber daya manusia dalam tiap bagian tersebut, melaksanakan tugasnya secara optimal. Dengan kata lain, bahwa setiap elemen sumber daya manusia dalam oraganisasi tersebut, menjalankan fungsinya dengan baik.

4. Tujuan personel (personnel objective)

Diorientasikan untuk membantu karyawan satu elemen dalam mencapai tujuan oraganisasi. Tujuan pribadi atau personal haruslah terpenuhi. Hal itu sudah merupakan motivasi dan pemeliharaan terhadap karyawan.[5]

Demikian halnya dalam arena dakwah sebagai suatu organisasi atau aktivitas kemanusiaan yang bertujuan untuk merubah sesuatu situasi ke yang lebih baik, dalam rangka kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, maka diperlukan sumber daya manusia yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya sebagai sebuah organisasi.

Menurut Syafaat Habib bahwa Sarana dakwah karenanya harus dilengkapi dengan manusia-manusia yang mampu menangani masalah-masalah sosial, karena arah yang dituju adalah perubahan-perubahan sosial yang lebih baik, mereka seharusnya memiliki siifat-sifat unggul manusia:

1. Sebagai “pemimpin”, mempunyai sifat lebih, ahli dalam bidangnya, bertaqwa , berjiwa patriotis, terlatih dalam masalah-masalah sekuler maupun masalah agama.

2. Sebagai manusia terkemuka yang diperlengkapi dengan baik, baik dalam hal ilmu pengetahuan yang luas, maupun alat-alat dan methode.

3. Sebagai pemuka digaris depan yang berkekuatan dan mampu memberikan energi kepadda sekitarnya, dengan pembangunan moralitas dan nilai-nilai kehidupan manusia lainnya.

4. Sebagai “penuntun” yang mampu meletakkan sesuatu yang “pertama” pada yang “pertama”, menghilangkan keraguan dalam tingkah laku dan sikap pengikutnya dan mampu memberikan bimbingan ketegasan.

5. Sebagai aturan yang selalu menekankan nilai-nilai budi pekerti yangtinggi atau makarimul akhlak.

6. Sebagain sumber yang selalu dapat menyediakan cara terbaik dalam membina kerja-sama antar ummat manusia, dengan kemampuan menunjukkan cara-caranya.

7. Sebagai kompas dan lidstar atau bintang penuntun yang dinamis bagi khalayak umum. Dan lain-lain sifat unggul yang perlu dimiliki seorang manusia, hamba tuhan yang baik.[6]

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Asep.M dan Agus. bahwa usaha pengembangan sumber daya da’i berkaitan dengan upaya pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya da’i yang meliputi pemberdayaan da’i dalam pola pikir, wawasan dan keterampilan sebagai berikut:

1. Peningkatan wawasan intelektual dan kreatifitas da’i dalam keilmuan dan keterampilan yang relefen.
2. Peningkatan wawasan pengalaman yang spiritual da’i yang direfleksikan dalam kematangan sikap mental, kewibawaan, dan akhlak al-karima.
3. Peningkatan wawasan tentang ajaran Islam secara kaffah dan integral.
4. Peningkatan wawasan tentang kebangsaan, kemasyarakatan dan hubungan intern serta ekstern umat beragama sehingga tercermin sikap toleran.
5. Peningkatan wawasan global dan ukhuah islamiah
6. Peningkatan wawasan integritas, persatuan, dan kesatuan (wahdah al-ummah)
7. Peningkatan wawasan tentang peta wilayah dakwah regional, nasional, dan internasional.
8. Peningkatan wawasan tentang kepemimpinan dalam membangun masyarakat.[7]

Para muballigh perlu ditingkatkan kualitasnya, peran dan fungsi mereka pada masa sekarang ini semakin berat. Dalam kaitan ini paling kurang terdapat sembilan hal penting yang harus dilakukan dan diperankan oleh muballigh sebagai berikut:

pertama, para muballigh sebagai pengawal akhlak (moral) bangsa. Sejarah telah mencatat bahwa kelangsungan hidup suatu bangsa ditentukan oleh tinggi rendahnya akhlak (moral) bangsa yang bersangkutan. Kedua, para muballigh sebagai penafsir jalan kehidupan umat manusia. Ini artinya, para muballigh pada dasarnya adalah pekerja-pekerja budaya yang selalul berupaya agar suatu kebudayaan bekembang mencapai bentuknya yang lebih beradap sesuai dengan tuntutan zaman.hal ini dapat menyebabkan wajah islamnya tidak utuh. Ketiga, para muballigh sebagai informator dan penerang masyarakat. Masyarakat amat haus terhadap informasi, petunjuk dan penerangan dari para muballigh. Informasi, petunjukk dan penerangan disampaikan oleh muballigh aka lebih diterima oleh masyarakat daripada infformasi, petunjuk dan penerangan yang disampaikan oleh pihak lain. Namun demikian agar informasi, petunjuk dan penerangan yang disampaikan itu tidak menyesatkan masyarakat, maka para muballigh harus melengkapi dirinya dengan data yang akurat dan dapat dipercaya. Data dan informasi tersebut, biasanya terdapat pada saluran teknologi informasi seperti internet, faksimile, dan berbagai mass media lainnya. Untuk itu para muballigh juga harus mampu menggunakan berbagai peralatan teknologi informasi tersebut, sehingga mampu mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia. Keempat, para muballigh sebagai agen perubahan sosial (agent of socialc henge) yang ada didalamnya termasuk melakukan pembaharuan pemikiran Islam. Munculnya keinginan untuk melakukan pembahaaruan terhadap ajaran Islam dalm bidang Fikhi dan teologi mesalnya didasari oleh pertimbangn yang bersifat internal dan eksternal. Kelima, para muballigh berparan dalam mengarahkan pandangan ke-Islaman masyarakat. Dewasa ini banyak sekali corak pemikiran faham ke-Islaman di Indonesia, seperti Islam fundamental, Islam teologis-Normatif, Islam Eksklusif, Islam Rasional, Islam Transformatif, Islam Aktual Islam Modernis, Islam Kultural serta Islam Inklusif-Pluralis. Seluruh corak pemikiran Islam tidak keluar dari Islam karena berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Menghadapi berbagai corak pemikiran Islam tersebut cara yang ditempuh adalah bukan mempertentangkan antara satu dan yang lain nya, atau membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lainnya. Cara yang bijaksana adalah dengan menunjukkan segi-segi positif dari berbagai corak pemikiran Islam tersebut, menghubungkan antara satu dan yang lainnya, serta meningkatkan segi-segi yang tidak sejalan dengan cita-cita islam. Keenam, para muballigh berperan dalam mewujudkan cita-cita islam dalam berbagi bidang kehidupan. Dalam bidang sosial, islam mencita-citakan suatu msyarakat yang egaliter, yaitu masyarakat yang didasarkan pada prinsip kesetaraan dan kesederajatan. Atas dasar ini kedudukan dan kehormatan manusia dihadapan tuhan dan manusia lainnya, bukan didasarkan atas perbedaan suku bangsa, golongan, bahasa, warna kulit, pangkat, keturunan, harta benda, tempat tinggal dan lain-lain sebagainya, melainkan didasarkan atas ketakwaan dan darma baktinya kepada masyarakat. Ketujuh, para muballigh berperan dalam menanamkan keimanan dan ketakwaan dalam arti yang sesungguhnya. Yaitu akan adanya Allah swt sebagai Tuhan yang wajib disembah yang diikuti dengan kesadaran untuk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Keimanan dan ketakwaan yang demikian itu benar-benar tertanam dalam hati dan terimplementasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Keimanan dalam hati diupayakan berperan seperti polisi rahasia yang selalu mengawasi gerak gerik perbuatan manusia. Dengan cara demikian ia selalu merasa diawasi oleh Allah, dan pada akhirnya ia tidak berani melakukan perbuatan yagn dilarang oleh Allah dan Rasulnya. Kedelapan , para muballigh berperan sebagai pemimpin masyarakat. Sejarah mencatat bahwa pertumbuhan dan perkembangan kota Jakarta sejak bernama Sunda Kelapa dan berada di bawah pengaruh Portugis pada tahun1913 hingga berubah menjadi Jakarta pada tanggal 22 Juni 1572 tidak bisa dilepaskan dari peran para muballigh.[8]

Dengan memperhatikan peran yang harus dilakukan para muballigh (da’i) tersebut maka terasa perlu peningkatan kualitas. Hal ini penting dilakukan mengingat peran yang harus dimainkan para muballigh (da’i) tersebut semakin hari semakin berat, rumit an penuh tantangan dan rintangan, seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, arus komunikasi dan informasi yang begitu dahsyat, membuat perubahan yang juga semakin cepat.

Pengembangan/Pelaksanaan Kegiatan Dakwah.

Peningkatan dan penyempurnaan terhadap proses dakwah dilakukan setelah diadakan penelitian dan penilaian terhadap jalannya proses dakwah secara menyeluruh setelah suatu proses usaha selesai. Artinya, apabila dalam contoh yang lalu rencana dakwah ditetapkan untuk jangka waktu lima tahun, maka pada jangka waktu tersebut, pimpinan dakwah perlu mengadakan penelitian dan penilaian secara menyeluruh terhadap jalannya proses dakwah. Melalui penelitian dan penilaian itu dapatlah dketahui kelemahan-kelemahan yang ada, penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi dan yang lebih penting lagi adalah diketahui faktor-faktor yang menjadi sebab terjadinya kelemahan dan penyimpangan tersebut.

Dengan data yang diperoleh, pimpinan dakwah dapat mengadakan penyempurnaan. Sehingga untuk proses dakwah pada tahapan berikutnya, tidak akan terulang lagi timbulnya kelemahan dan penyimpangan sebagaimana telah dialami oleh proses dakwah yang baru saja selesasi. Dengan begitu, maka proses dakwah semakin lama semakin maju dan sempurna.

Atas dasar inilah maka penilaian itu harus ditujukan pada fungsi-fungsi manajemen lainnya. Ia harus menjawab mengapa rencana yang telah ditetapkan tidak dapat dilaksanakan; mengapa organisasi yang telah disusun tidak dapat menjamin tercapainya tujuan; mengapa para pelaksana tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik, dan sebagainya.

Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu, dapatlah dilakukan perbaikan-perbaikan, perubahan-perubahan ke arah penyempurnaan dalam arti menyeluruh.

Suatu hal yang sangat ideal adalah bilamana dalam setiap perencanaan untuk setiap tahapan atau jangka waktu tertentu terlihat adanya peningkatan dan penyempurnaan, melebihi waktu-waktu yang sudah. [9]

Hal tersebut sangat penting menjadi fokus perhatian sebab kondisi masyarakat yang menjadi obyek dakwah mengalami perubahan, akibat karena era globalisasi, informasi, dan kemauan teknologi.

Menurut Tholhah Hasan bahwa, Kenyataan perubahan social yang terjadi dewasa ini, lain sifatnya dengan perubahan social yang pernah terjadi dalam masyarakat yang selama ini. Ciri yang menonjol dari perubahan yang terjadi adalah pengaruh yang kuat, cepat dan radikal oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diawali oleh penemuan-penemuan baru (discovery) dalam Iptek, dilanjutkan dengan perekayasaan berbagai macam bidang Iptek (invention), seperti computer, biotek, teknologi angkasa luar, dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah pengembangan dan pengunggulan (innovation). Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi penggerak perubahan hampir dalam semua sector kehidupan, dari yang bersifat fisikal, seperti konstruksi, transportasi, mekanik dan lain-lain sebagainya, sampai yang bersifat mental seperti orientasi, paradigma, etika dan agama.[10]

Terhadap masalah yang dihadapi, yang berkembang di masyarakat, akibat makin majunya suatu masyarakat, semakin beraneka problema yang dihadapi dan dipersoalkan. Oleh karena demkian, menurut Syafaat Habib bahwa dinamika pengembangan dan penelitian perlu terus ditingkatkan, dengan cara:

a. Mencatat dalam tebel secara kronologis dan historis semua jenis persoalan yang pernah dihadapi dengan segala jawaban yang diberikan dan reaksi-reaksi penerima. Dari sana biasa diketemukan cara baru untuk dikembangkan.

b. Perlu selalu dicara jalan untuk menemukan pengembangan dakwah yang lebih cepat yang lebih praktis, baik dalam penyampaian, materi, cara dan lain sebagainya.

c. Perlu juga cara klasifikasi masalah yang dihadapi dan cara pemecahannya. Klasifikasi ini akan membantu menemukan cara yang lebih baik bagi system yang akan dilakukan di kemudian hari. Misalnya mengadakan pengelompokkan masalah ubudiyah, masalah ijtima-iyah, masalah remaja dan lain sebagainya.

d. Mecari keluhan-keluhan masyarakat yang bisa dicarikan pemecahannya melalui ajaran dakwah, agar manusia dapat mengatasi keluhan diri tersebut.

e. Menemukan situasi-situasi yang abnormal dalam masyarakat, kemudian mencari pemesahannya melalui dakwah. Jika perlu mengadakan penelitian terhadap background keadaan yang tidak normal itu, apakah yan menjadi penyebabnya, misalnya bagaimana dakwah menghadapi masalah kenakalan remaja, mengahadapi issue “abortus yang berkembang dalam masyarakat”, menghadapi “keluarga berencana sebagai keharusan warga Negara dan lain-lain sebagainya.

f. Mengadakan analisa secara kualitatif dan kuantitatif, untuk menemukan jawaban apakah sebenarnya problema tertentu yang berkembang dalam masyarakat itu. Dengan analisa yang tepat maka dakwah harus menemukan jawaban terhadap problem yang mungkin oleh masyarakat sendiri masih tanda tanya besar. Misalnya soal “rente bank”.

g. Apabila terjadi suatu kejadian, yang oleh umum dianggap benar, padahal menurut pandangan dakwah perlu ada koreksi, maka perlu dipertanyakan dulu, mengapa hal itu perlu terjadi dalam masyarakat umum, misalnya terjadinya perjudian, “berkembangnya budaya minuman keras”, dan system-sistem lain masyarakat modern.

h. Seringkali diperlukan penentuan bagaimanakah dan mengapa dakwah harus dikembangkan dalam masyarakat. Hal ini untuk memperbaiki segi fungsional dakwah itu sendiri dalam masyarakat manusia.

i. Persoalan timing dakwah itu dilancarkan dalam suatu kelomp[ok masyarakat, juga memerluka ketepatan, baik dalam prioritas isi, cara, alat yang dipergunakan maupun penampilan penda’wah sendiri. Sehingga akan menentukan kegunaan dakwah itu. Maka harus dicari jawaban atas “kapan dakwah harus diberikan”. Perlu diketemukan daerah yang operatif untuk dakwah tertentu dan dakwah yang tidak operatif. Timing perlu untuk dakwah di daerah yang baru mengenal dakwah, para masayrakat yang terasing, pada kaum intelektual yang masih baru mempertanyakan perlunya agama bagi manusia, dan lain sebagainya.

j. Penentuan diamanakah suatu topik atau subyek dapat diberikan atau tidak dapat diberikan.

k. Penelitian mengenai cara yang pernah dipakai, apakah masih cocok atau tidak, ataukah sama sekali salah menurut cara yang lebih baru. System dan cara serta metode adalah sangat menentukan dalam keberhasilan dakwah. Oleh sebab itu masalah bagaimanakah dakwah itu harus diterapkan dalam masyarakat perlu kecermatan situasional, substansial dan orientasi.

l. Konsepsional perlu pula mendapatkan perhatian, apakah tepat untuk disampaikan kepada suatu objek dakwah atau tidak. Sebab kesalahan dalam hal ini, mungkin malahan akan menjadikan dakwah menjadi tidak popular dikalangan orang banyak atau dimusuhi oleh umum. “image” masyarakat perlu dibentuk.

m. Pembetulan atau adjustment dan re-adjustment harus selalu diadakan. Ini memerlukan pengamatan yang terus menerus. Terutama oleh organisasi dan manajemen dakwah.

n. Perlu mempertimbangkan seluruh kekuatan masyrakat dalam hal kekuatan fisik maupun kekuatan kejiwaan mereka dalam kemampuan mereka menerima dan mendukung serta menjadi landasan mengembangkan dakwah untuk selanjutnya. Sebab setiap kekuatan tentu ada efeknya.

o. Dakwah perlu terus meningkatkan kemampuan dalam penelitian dan pengembangannya dalam mengadakan study kemasyarakatan, termasuk seluruh kekuatan yang membantu dan yang menghambat keberhasilan dakwah masyarakat. Perlu study pula terhadap seluruh factor yang membatasi gerak kemasyarakatan, karena pembatas masyarakat ini adalah “norma”, sedang dakwah ditinjau dari segi kehidupan masyarakat juga merupakan norma, termasuk study menganai tradisi, norma hokum yang berlaku, budaya masyarakat, permintaan dan keluham-keluhannya.

p. Sebagai organisasi pembentuk masyarakat, maka dakwah adalah usaha besar kemayarakatan yang mempunyai banyak aspek, oleh sebab itu selalu diperlukan brainstorming atau pengarahan otak para pendukungnya, yang berfokus pada kekuatan organisasi dan manajemen dakwah.

q. Satu hal tidak boleh dilupakan dalam pengembangan dakwah juga msalah chek dan recheck atau mencek dan mencek kembali kekuatan dan unsur yang menyangga dakwah dalam masyarakat, agar dakwah selalu up-to-date, mendapat sambutan dan dukungan hangat para peminatnya dan hidup terus dalam perkembangan masyarakat, dalam arena yang bagaimanapun juga bentuknya dan majunya.[11]

Keadaan ini sudah tentu merupakan tugas dari sistem dakwah secara umum, seluruh aspek transmisi dan aspek keturunan serta linkungan hidup harus mampu dipergunakan oleh dakwah, sebagai sarana penting yang menjadikan dakwah perperan penting. Manusia, disadari perlu pengaruh baik seperti yang dimiliki dakwah dalam dirinya, manusia perlu ide-ide yang baik, keterampilan yang berguna, kebiasaan yang terpuji, sikap dan tingkah laku yang bijaksana, kepentingan yang terarah dan lain-lain dasar-dasar nilai kemanusiaan yang luhur. Oleh sbab itu dakwah harus menyusup kedalam semua kegiatan sosial dan teknik manusia dalam dinamika hidup. Pengetahuan dakwah harus tersebar dalam sendi sendi kehidupan manusia, akan lebih efektif sampainya tujuan apabila disertai organisasi dan manajemen yang baik.

Seluruh lingkungan kehidupan sebaiknya dipengaruhi oleh dakwah, apabila dakwah bisa berperan dalam masyarakat secara sempurna, baik lingkungan tersebut adalah lingkungan fisik, biologis, psychologis, maupun kultural mereka.[12]

Pengembangan (developing) merupakan salah satu perilaku manajerial yang meliputi pelatihan (couching) yang digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan seseorang dan memudahkan penyesuaian terhadap pekerjaannya dan kemajuan kariernya. Proses pengembangan ini didasarkan atas usaha untuk mengembangkan sebuah kesadaran, kemauan, keahlian, serta keterampilan para elemen dakwah agar proses dakwah berjalan secara efektif dan efesien.

Pengembangan dan pembaruan adalah dua hal yang sangat diperlukan. Rasulullah Saw. mendorong umatnya supaya selalu meningkatkan kualitas, cara kerja dan sarana hidup, serta memaksimalkan potensi sumber daya alam semaksimal mungkin. Karena Allah telah menciptakan alam semesta ini untuk memenuhi hajat hidup manusia.

[1] Tjutju Yuniarsih dan Suwatno, Manajemen Sumber Daya Manusia, Teori, Aplikasi dan Penelitian, (Cet. I; Jakarta: Alfabeta, 2008), h.62.
[2] Sondang P. Siagian, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi (Cet. XIV; Jakarta: Toko Gunung Agung, 1997), h. 150
[3] Sondang. P.Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Cet.IX; Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 9
[4] Sondang P. Siagian, Fungsi-fungsi Manajerial (Cet; Jakarta: Bumi Akasara, 1996), h. 130
[5] Soekidjo Notoadmodjo dalam M. Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2009),h.202-203
[6] M.Syafaat Habib, Buku Pedoman Dakwah (Cet.I; Jakarta: Widjaya), h. 85
[7] Asep Muhiddin dan Agus Ahmad, Metode Pengembangan Dakwah, (Cet. l; Bandung: Pustaka Setia, 2002), h.137-138
[8] Selengkapnya, lihat Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Edisi I, Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 150-155.
[9] Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah Islam (Jakarta: Bululan Bintang; 1976), h.150
[10]M. Tholhah Hasan, Prospek Islam dalam Menhadapi Tantangan Zaman, (Cet. IV; Jakarta: Lantabora Press, 2003), h.149
[11] M.Syafaat Habib, op.cit, h.222-224
[12] Ibid, h.209

0 komentar:

Post a Comment